Rabu, 07 Desember 2011

menumbuhkan cinta karya sastra






  
Menumbuhkan Cinta Karya Sastra

Laporan dari Bank Dunia menyatakan bahwa, tingkat keterampilan dan minat baca pada siswa  tingkat dasar di Indonesia merupakan yang paling rendah di kawasan Asia. Yang menurut laporan tersebut Hongkong menempati posisi teratas dengan persentase angka minat baca 75,5 persen, di bawahnya ditempati Singapura dengan angka 74,0 persen, kemudian Thailand dengan angka 65,1 persen, lalu di belakangnya ada Filipina dengan angka 52,6 persen, dan yang paling akhir adalah Indonesia dengan angka hanya 51,7 persen.
Ironis mengingat rakyat Indonesia yang berjumlah lebih dari 200 juta jiwa.  Akses siswa untuk membaca sudah difasilitasi oleh pihak sekolah maupun pemerintah. Terbukti dengan adanya perpustakan sekolah maupun perpustakaan daerah. Semangat baca seperti terkekang oleh kehadiran televisi yang gencar menarik minat siswa.
Hal ini berdampak besar pada minat baca karya sastra pada siswa. Membaca cerpen, novellet, novel seperti suatu keterpaksaan bagi siswa untuk mendapatkan nilai bahasa indonesia saja. Tanpa ada keinginan dari dalam diri untuk mempelajari sastra. Cerpen dan novel yang dikenal siswa pun terbatas pada yang diajarkan oleh sekolah. Hal ini mengingatkan kita pada faktor ketidakercapaian pengajaran sastra di sekolah yaitu faktor guru, siswa, sarana. Faktor guru dipengaruhi antara lain : 1) Rendahnya minat baca terhadap karya sastra. 2) Kurangnya belajar tentang teori sastra. 3) kurang mengapresiasi karya sastra. 4) cakupan materi yang ada terlalu luas untuk porsi jam yang terbatas. Hal lain yang menurut Taufik Ismail turut andil adalah “pengunggulan berlebih kepada jurusan eksakta, dalam dunia pendidikan kita”. Sehingga sastra dianggap sebelah mata. Tujuan pengajaran karya sastra di sekolah sendiri adalah meningkatkan kemampuan siswa untuk mengapresiasi karya sastra, namun, masih banyak ditemukan kebingungan dalam apresiasi itu sendiri. Guru dalam pengajaran karya sastra masih belum paham benar teori sastra yang akan menjadi dasar pengajarannya. Mengajarkan apresiasi sastra tidak hanya dengan menyediakan dan menugasi siswa membaca karya sastra, tetapi dapat juga mengasah kemampuan siswa untuk menciptakan karya sastra. Guru yang mengajarkan pun harus menciptakan karya sastra sebagai pengalaman bersastra. Karena pengalaman bersastra tidak didapat dari teori. Pengalaman itu didapat setelah penulis membuat karya sastra. Dari pengalaman itulah guru mendapat dasar untuk merumuskan teori membuat karya sastra.
Hal kecil yang dapat kita lakukan adalah dengan memulai mengenal karya sastra itu sendiri. Pepatah lama mengatakan “Tak kenal maka tak sayang” untuk itulah pengenalan dengan cara yang menarik akan menjadikan kita menyayangi dan mencintai karya sastra. Seyogyanya kita harus merenung tentang cara pengajaran karya sastra yang baik dan benar sehingga minat anak akan karya sastra semakin tumbuh dan berkembang.


Rio Anugrah Rizkiansyah
Mahasiswa PBSI UNNES 2009

Tidak ada komentar:

Posting Komentar