Penulis : Rio Anugrah Rizkiansyah
ketukan perkusi
Suara pak Ali menghentikan ketukanku pada senar drum. Dia datang menghampiri kami sambil marah-marah. “dek, kalau mau latihan jangan disini. Saya sedang bekerja memperbaiki auditorium”. “Tapi kemarin kami sudah izin pak”. Jawabku. Dia berlalu begitu saja tanpa menghiraukan kami. ”Sudahlah mon, sekarang kita pindah saja di lapangan basket sebelah gazebo”. Kata Zaldi sambil menepuk pundakku. “Iya Zal, mungkin disana lebih tenang untuk latihan”.
Kami bersama-sama mengangkut semua peralatan latihan. Jaraknya cukup jauh karena kampus kami terhitung luas, tapi tidak menjadi penghalang untuk berhenti berlatih. Disatukan oleh hobi yang sama, aku, Zaldi, Ahmad, Bahri, dan Guntur larut menjadi satu hati memainkan alat-alat ini. Entah sudah berapa lama kami berteman hingga sekarang.
***
Namaku Monti Erlangga, namun teman-teman sering memanggilku monti atau mon saja. Sejak kecil tidak punya banyak teman karena masa kecilku banyak terkekang oleh aturan orang tua. Meskipun aku anak laki-laki namun, mereka menganggap teman-teman sepermainanku akan memberi pengaruh buruk. Hanya ada dua orang dari kampungku yang melanjutkan sekolah hingga ke Universitas. Hanya aku dan Zaldi. Keluargaku termasuk keluarga yang dihormati oleh lingkungan sekitar. Garis keluarga dari mulai buyutku hingga sekarang merupakan garis keluarga pendidik. Aku tahu cerita itu dari ibu, pernah suatu kali ia menceritakannya. Bila diceritakan secara detail pasti akan sangat lama. Namun itulah perkenalan singkat tentang diriku. Lalu akan aku ceritakan tentang Zaldi, teman akrab satu-satunya dari dulu. Ia adalah anak dari seorang pengusaha bawang, bapaknya mempunyai ladang yang luas. Ibunya pun membuka toko kelontong di depan rumah, mungkin dari sana bakat bisnisnya mengalir. Pernah pada waktu awal masuk kuliah, Zaldi membawa baju kemeja untuk diperjualbelikan pada teman-teman diruang kuliah. Dia mengatakan baju itu buatan bibinya yang bekerja sebagai penjahit konveksi. Apa yang ada di benaknya saat itu adalah suatu yang tidak aku mengerti. Namun, kadang ia mengejutkanku dengan trik-trik berjualannya yang tidak biasa. Seperti memberi potongan harga 50 % untuk baju kedua yang dibeli pada saat itu juga.
Ahmad merupakan teman satu jurusanku dan Zaldi. Kami sama-sama belajar di Jurusan Teknik Informatika di salah satu universitas swasta di kota Semarang. Sedang Bahri dan Guntur merupakan teman kami dari jurusan seni musik.
***
Kami seperti terbuai ketika memainkan alunan perkusi yang berasal dari campuran banyak alat musik menjadi satu. Di momen ini aku dapat dengan bebas mengekplorasi berbagai genre musik yang mungkin bagi sebagian orang mendengar musik ini hanya sebatas pukulan-pukulan saja. Namun bagi kami, ini seperti simphoni yang dinamis namun tetap harmonis. Tidak pernah sekalipun kami menjadwalkan latihan. Tiap anggota dari grup kami sudah saling mengerti untuk sama-sama menyempatkan waktu. Walau kadang-kadang salah satu berhalangan hadir karena kesibukan. Perjuangan latihan pun kadang harus pahit karena kebanyakan orang terganggu dengan musik kami.
“Aku hanya ingin merubah pemikiran orang-orang bahwa perkusi merupakan suatu musik yang baik serta positif karena kita dapat menyalurkan hobi melalui aktivitas yang benar”. Kataku pada Zaldi
“Tapi tidak semua orang berfikir seperti itu mon. Mereka masih berfikir bahwa perkusi merupakan musik urakan yang hanya mengganggu saja.”
“Niat baik saja belum cukup untuk mengangkat musik ini ya zal?. Masih dibutuhkan usaha keras untuk membuatnya tidak dipandang sebelah mata.”
“Benar mon. Orang hanya melihat ini dari sudut pandang mereka saja. Kita harus buktikan kalau kegiatan kita lebih banyak manfaat daripada mudharatnya.”
“Siap. Mari satukan semangat sehingga perkusi kita terus maju.”
“SSSIIIAAAPPP !.” jawab mereka serempak
Keesokan harinya, Bahri dan Guntur menunjukan secarik poster tentang lomba adu kreativitas musik dengan alat-alat sederhana. Mereka memandangiku dengan wajah mengguratkan raut kegembiraan seolah kami tahu pikiran masing-masing tanpa harus berkata-kata.
“Ini kesempatan perkusi kita !” gumamku dalam hati
Kami pun bersemangat untuk berlatih. Menyempatkan setiap waktu luang untuk menyelaraskan permainan kami. Mencoba belajar trik dari senior maupun terus melakukan uji coba ketukan baru untuk memberikan variasi. Tenggang waktu untuk sampai pada lomba itu tinggal 1 minggu lagi, kadang aku fikir itu waktu yang singkat. Namun, inilah gambaran hidup. Kalau kita tidak mengefektifkan waktu maka waktu lah yang akan membunuh kita. Waktu memiliki dua sisi mata pisau dimana individu yang dapat mengefektifkan waktu maka ia akan menang. Sebaliknya, disaat individu itu tidak dapat mengefektifkan dengan baik maka ia yang akan terbunuh oleh pisau waktu tersebut.
Dua hari sebelum lomba, kami sudah menyelesaikan konsep yang akan kami tampilkan di panggung nanti. Lalu kami mempersiapkan semua kebutuhan mulai dari alat, kostum hingga kesiapan fisik.
Tibalah pada hari dimana lomba ini diselenggarakan. Kami berangkat pagi-pagi dengan membawa semua perlengkapan. Tiga puluh menit merupakan waktu yang kami butuhkan untuk mencapai lokasi. Sesampainya disana, sudah banyak peserta lain yang menunggu pengumuman dari panitia pelaksana.
Kami mendapat nomor urut ke 6. Cukup awal karena jumlah peserta diperkirakan mencapai ratusan grup. Lomba ini memang lingkup kota namun antusiasme peserta begitu besar karena tahun ini merupakan tahun pertama lomba ini diselenggarakan.
Setelah menunggu ke lima kontestan menunjukan aksinya, tibalah saat bagi kami. Saat-saat yang sangat sulit digambarkan dengan kata-kata. Panggung dengan sound besar di kanan dan kiri. Lalu ada deretan juri yang siap memberikan komentar setelah peserta selesai beratraksi.
“Penampilan kalian cukup kompak. Namun masih harus diselaraskan ketukan antar satu alat dengan alat lainnya.” Kata juri menilai penampilan kami
“Hasil yang tidak buruk kawan. Ini lah saat kita untuk berproses ke arah yang lebih baik.” Kataku untuk menyemangati setelah kami turun dari panggung
“Iya mon !” Jawab mereka serempak
Beberapa hari kemudian, hasil lomba diumumkan melalui media cetak lokal. Namun, sepertinya keberuntungan belum berpihak dengan sisi kami. Dari sejumlah kategori yang diperlombakan grup kami belum berhasil merebut satu kategori pun. Kekecewaan sempat menghampiri kami namun inilah kompetisi dimana ada pihak yang menang sedangkan di lain pihak harus ada yang kalah. Mengikuti kompetisi bukan hanya harus menyiapkan mental ketika menang juga dituntut untuk menerima sebuah kekalahan sebagai suatu pengalaman. Yah kata orang bijak, pengalaman merupakan guru yang terbaik. Guru yang mengajarkan rasa sakit ketika menerima kekalahan dan rasa manis kemenangan melalui kompetisi yang sportif.
Sikap aneh menghampiri hubungan pertemanan aku dan Zaldi. Ia bersikap tidak mengenalku setelah pengumuman lomba kemarin. Entah apa yang ada di benaknya. Sebenarnya, kekalahan itu tidak menyurutkan semangatku untuk tetap berlatih perkusi. Malahan dengan situasi ini maka hasratku umtuk mengeksplorasi semakin besar.
Dihari lain, aku menghubungi Zaldi dan teman lainnya. Aku ingin minta penjelasan tentang apa yang merubah sikap mereka belakangan ini. Benarkah ini karena kekalahan kemarin atau ada hal lain?
“Teman-teman, aku sengaja mengumpulkan kalian disini untuk tahu apa yang terjadi setelah kekalahan kemarin, apa yang terjadi dengan kalian? Hanya segini semangat kalian membangun grup perkusi kita?”
“Mon, menurut kami, kita hanya buang-buang waktu saja dengan berlatih, toh nyatanya kita tidak menang dalam lomba kemarin.jadi buat apa?” Ungkap Zaldi
“Tapi kemenangan jangan dijadikan sebagai tujuan sebuah kompetisi. Tujuan sebenarnya adalah mencoba mengikuti dengan semangat sportifitas. Kemenangan hanya bonus atas usaha kita mengikuti kompetisi itu.”
Perkataan ku menghentikan wajah marah mereka. Entah apa yang ada di benak mereka namun itulah tujuanku yang sebenarnya mengikuti sebuah kompetisi. Inilah prinsip yang aku gunakan dan terapkan dalam hidup, hidup ini singkat janganlah kita sia-sia kan gara-gara pikiran picik tentang sebuah kekalahan.
***
Hari ini adalah hari pertamaku membuka sebuah kelas untuk mengajarkan anak-anak jalanan belajar perkusi. Bekerjasama dengan salah satu teman yang mempunyai sebuah sekolah alam dekat kampusku. Ini sebuah usaha untuk mempopulerkan aliran musik perkusi. Walau kini aku tak lagi menampilkan musik itu sendiri namun aku senang dapat menularkan ilmu yang aku punya. Pekerjaan ini memang tidak mudah namun karena ini adalah sebuah dedikasi yang ingin aku buktikan pada semua orang dan juga pada teman-teman grupku yang sekarang telah patah semangat mempopulerkan musik ini. Aku tidak akan menyerah sampai disini.
Seiring berjalannya waktu, murid didikku telah mencapai puluhan anak. Aku sengaja fokus pada anak-anak jalanan karena bakat dan semangat mereka dapat tersalurkan dengan baik melalui kegiatan yang positif. Seperti visiku dari awal mempelajari musik ini.
Selain mengajarkan musik perkusi, aku juga bertanggung jawab atas semua kebutuhan dan pengelolaan alat-alatnya. Memang merawat alat musik pukul ini tidak mudah, diperlukan ketelitian dan keuletan yang cukup. Dalam waktu dekat ada sebuah lomba kreativitas yang diadakan oleh kampusku sendiri. Ini kesempatan untuk mulai menguji anak didikku dalam kompetisi yang sesungguhnya.
Waktu persiapan cukup panjang, sekitar satu bulan kedepan. Namun, bukan saatnya mereka terlena dalam rentang waktu itu. Aku mencoba menekankan kedisiplinan pada mereka. Pengalaman selama menjadi pemain perkusi ingin ku jadikan dasar pikiran agar nantinya saat mereka menghadapi kompeisi tidak selalu harus mengejar kemenangan. Justru proseslah yang menjadikan seseorang menjadi pemenang atau pecundang.
Waktu yang ditunggu-tunggu pun semakin dekat, tinggal 5 hari tersisa. Konsep sudah matang, namun koreografi diatas panggung belum kelar. Aku teringat pada sosok Zaldi, dialah seorang koreografer yang menurutku punya bakat luar biasa mengatur gerakan maupun formasi saat dulu kami bersama. Segera aku pun menemui Zaldi.
“Zal, bagaimana kabarmu semenjak terakhir kita bertemu?”
“Baik mon, ku dengar kamu melatih anak-anak jalanan untuk bermain perkusi?”
“Iya. Dari awal dedikasiku mempelajari perkusi untuk mempopulerkan dan mengubah cara pandang masyarkat. Kamu pasti tahu itu.”
“Aku sangat paham. Lantas apa tujuanmu kemari?”
“Anak didikku butuh seorang koreografer luar biasa seperti kamu. Apakah kamu bisa membantu aku dan anak didikku?”
“Membantu anak didikmu akan sangat membanggakan bagiku. Membantumu adalah sebuah hal yang tidak usah kau tanyakan lagi.” Ucapnya seraya tersenyum kecil
Keesokan harinya, Zaldi datang. Namun, yang tidak aku duga adalah ternyata dia datang bersama Ahmad, Bahri, dan Guntur. Sebuah reuni teman-teman lama yang sangat aku inginkan karena meskipun mereka tidak lagi berkecimpung dalam dunia perkusi namun kehadiran mereka akan sangat membantu anak didikku menggali pengalaman dari mereka.
Lalu, hari perlombaanpun tiba, disinilah secercah hasil kerja keras kami mulai terbayarkan. Hasil lomba memutuskan bahwa tim anak didikku menjadi juara dalam kategori best performance dan berhak mewakili kota kami untuk berlaga di kancah nasional. Aku bersyukur dengan kemenangan ini karena akan membuka jalan untuk dapat berkembang lebih baik.
Setelah kemenangan, aku tidak akan puas hanya sampai pada titik ini. Aku jadikan sebagai jembatan ke level yang lebih tinggi dan sarana sosialisasi ke khalayak luas bahwa jenis musik perkusi dapat berprestasi ditingkat yang baik.
Teman-teman lama ku kembali membantu mengembangkan kelas musik perkusi ini. Rupanya mereka telah sadar bahwa kemenangan tidaklah instan\. Perlu usaha yang maksimal untuk mencapainya. Mereka bekerja di balik layar bersamaku. Mengurus latihan, alat-alat, hingga sosialisasi pada seminar-seminar.
Musik perkusi merupakan hasil sebuah kreativitas manusia dalam bidang musik, alat yang sederhana mencerminkan sebuah manifestasi atas kerendahan hati penikmatnya, alunannya yang dinamis tertular oleh semangat yang bergelora dalam jiwa, serta melodi yang mengalun lembut hasil percampuran ketukan layaknya kerukunan antar manusia hasil pluralisme yang terarah.